Powered By Blogger

Selasa, 07 Februari 2012

makalah pasca penen pisang



PENDAHULUAN

Buah pisang merupakan buah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, yang dapat dikonsumsi kapan saja dan pada segala tingkatan usia. Di daerah sentra buah pisang, ketersediaan buah pisang seringkali dalam jumlah banyak dan keragaman varietas yang luas sehingga dapat membantu mengatasi kerawanan pangan.

Potensi produksi buah pisang di Indonesia memiliki daerah sebaran buah pisang yang luas, hampir seluruh wilayah merupakan daerah penghasil pisang, yang ditanam di pekarangan maupun ladang, dan sebagian sudah ada dalam bentuk perkebunan. Jenis pisang yang ditanam mulai dari pisang untuk olahan sampai jenis pisang komersial yang bernilai ekonomi tinggi.

Sentra produksi pisang di Indonesia adalah Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Indramayu, Cirebon, Serang), Jawa Tengah (Demak, Pati, Banyumas, Sidorejo, Kesugihan, Kutosari, Pringsurat, Pemalang), Jawa Timur, (Banyuwangi, Malang), Sumatera Utara (Padang Sidempuan, Natal, Samosir, Tarutung), Sumatra Barat (Sunyang, Baso, Pasaman), Sumatera Selatan (Tebing Tinggi, OKI, OKU, Baturaja), Lampung (Kayu Agung, Metro), Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Barat.
            Pisang dapat digunakan sebagai alternatif pangan pokok karena mangandung karbohidrat yang tinggi, sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi beras dan terigu. Untuk keperluan tersebut, digunakan buah pisang mentah yang kemudian diolah menjadi berbagai produk, baik melalui pembuatan gaplek dan tepungnya maupun olahan langsung dari buahnya. Karbohidrat buah pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Dibandingkan dengan gula pasir, sirup, karbohidrat pisang menyediakan energi sedikit lebih lambat, tetapi lebih cepat dari nasi, biskuit dan sejenis roti.







TINJAUAN PUSTAKA

Adapun sistematika tanaman pisang adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Class                : Monocotyledonae
Ordo                : Musaceae
Family             : Musa
Genus              : Musa paradisiaca  L.
 






Gambar 1: buah pisang
Penanganan buah pisang oleh petani maupun pedagang pengumpul masih sederhana. Untuk mempertahankan mutu buah pisang setelah panen, maka penanganan yang baik harus dilakukan sejak panen. Buah setelah panen dikumpulkan di tempat yang teduh, terlindung dari panas. Umumnya para pedagang pengumpul memiliki ruangan di depan atau di samping rumahnya untuk menampung buah pisang. Tandan buah pisang diletakkan berjajar, tidak bertumpuk, dan harus dihindari penetesan getah dari tangkai yang menodai buah pisang, karena penampilan buah menjadi kotor.
Buah pisang di Indonesia diperdagangkan dalam bentuk tandan, sisir atau satu gandeng terdiri dua buah. Umumnya, buah pisang dari sentra produksi diangkut masih dalam bentuk tandan dan keadaannya masih mentah. Pengangkutan dilakukan menggunakan truk atau mobil dengan bak pengangkut (pick up) dengan menumpuk tandan pisang hingga bak tersebut penuh, kemudian menutupnya dengan terpal atau kain penutup lainnya atau tanpa penutup sama sekali. Kondisi ini dapat mengakibatkan tingkat kerusakan yang tinggi. Pisang yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi mendapat perlakua yang lebih baik, dengan membungkus tandan pisang menggunakan daun pisang kering yang dililitkan dari sisir terbawah ke sisir paling atas sehingga menutup sempurna seluruh bagian. Cara tersebut umumnya diterapkan untuk buah pisang dalam tandan yang sudah matang atau mengalami pemeraman terlebih dahulu.
            Untuk menjaga kualitas buah pisang, cara terbaik dalam pengiriman buah adalah dalam bentuk sisir yang dikemas dalam peti karton atau peti plastik yang bisa digunakan ulang. Pekerjaan pemotongan sisir dilakukan oleh pekerja di bangsal pengemasan menggunakan pisau khusus (dehander). Biasanya pada saat dipotong, tiap sisir akan mengeluarkan getah. Untuk membekukan getah dan sekaligus membersihkan debu dan kotoran yang melekat pada permukaan buah, sisir-sisir pisang segera dimasukkan dalam bak berisi air. Jika satu sisir pisang berukuran besar dan berisi banyak, maka perlu dipotong lagi atau dalam bentuk klaster, agar lebih mudah penanganannya saat pengemasan.






Gambar 2 : pengepakan pisang
Produk pascapanen hortikultura segar buah-buahan dan sayur-sayuran adalah produk yang masih hidup dicirikan dengan adanya aktivitas metabolisme yaitu respirasi. Respirasi adalah proses oksidasi dengan memanfaatkan gula sederhana dimana dengan keterlibatan enzim dirubah menjadi CO2, H2O dan energi kimia berupa adenosin triphosphate (ATP) disamping energi dalam bentuk panas.  Karena suplai karbohidrat terputus karena aktivitas fotosintesis terhambat setelah panen untuk produk sayuran dan suplai terputus dari tanaman induknya untuk buah-buahan, maka semua suplai untuk aktivitas respirasi hanya berasal dari tubuh bagian tanaman yang dipanen itu sendiri.  Akibatnya, selama periode pascapanennya terjadi kemunduran-kemunduran mutu kesegarannya.  Kemunduran ini akan dibarengi dengan tumbuh dan perkembangan agen-agen perusak lainnya seperti mikroorganisme pembusuk dan serangga perusak.
Kualitas buah pisang di Indonesia kadang kurang baik,  yang disebabkan oleh panen tidak tepat waktu (ketuaan tidak memenuhi syarat), kurangnya perawatan tanaman dan buruknya penanganan di kebun dan selama pengangkutan yang mengakibatkan kerusakan mekanis dan memberi peluang infeksi mikroorganisme penyebab busuk pascapanen lebih besar. Selain mikroorganisme yang masuk ke dalam buah melalui luka, serangan busuk buah juga sudah dimulai penetrasinya sejak buah masih di pohon. Mikroorganisme yang telah melakukan penetrasi tersebut adalah Colletotrichum sp, yang kemudian berada dalam keadaan laten, dan spora berkecambah saat buah menjadi matang. Pada umumnya busuk pada pisang di Indonesia adalah antraknos, tip rot, dan crown rot.
Infeksi saat di pohon dapat terjadi ketika buah masih sangat muda dan tidak menampakkan adanya gejala busuk buah. OPT pascapanen pada umumnya disebabkan oleh cendawan atau bakteri. Spora umumnya berkecambah pada permukaan kulit buah, kemudian membentuk appressoria dan hifa untuk menginfeksi dan tetap tinggal dalam lapisan sel pada kulit dalam kondisi laten. Ketika buah mencapai kematangan, mikroorganisme tersebut baru aktif dan memperlihatkan gejala serangan hingga menyebabkan busuk buah.


PENYAKIT PASCA PANEN PISANG

A.    PENYAKIT ANTRAKNOSA

Pertumbuhan dan sporulasi patogen optimum pada suhu 27-300C dan tidak akan tumbuh dibawah suhu 150C. Asevulus terbentuk setelah jaringan sakit rontok. Inang dan patogen sama-sama menghasilkan etilen yang dapat mempercepat kematangaan buah dalam pengangkutan meskipun etilen yang dihasilkan inang peran nya lebih besar.

1.      Gejala Serangan
Gejala yang berkembang pada buah mentah (hijau) dimulai dari kulit buah yang luka. Gejala yang lanjut berwarna coklat tua sampai hitam berbentuk seperti lenti atau intan dan mencapai ukuran 8x3 cm, memanjang searah dengan panjangnya buah. Bercak melekuk dan berbeda dari jaringan sehat dengan adanya tepi yang pucat, serta adanya daging buah dibawah bercak serong kali terpengaruh. Massa spora konidia berwarna merah jambu dan aservulus dapat timbul pada bercak yaang meningkat selama pemasakan pada suhu tinggi.

           




Gambar 3: buah terserang antraknose
 
 

Gejala pada buah menguning berupa noda cokelat melekuk dan tertutup oleh massa konidia oranye atau merah jambu. Gejala meluas seiring dengan proses pematangan dan dapat bersatu. Ujung yang busuk dapat berkembang ke seluruh daging buah. Meskipun daging buah tidak berpengaruh, kecuali pisang menjadi lewat masak atau ditempatkan pada ruang dengan suhu tinggi.

2.      Patogen
            Jamur Colleototricum musae Arx sinonim Gloesporium musarum. Konidianya bialin, tidak bersekat ,oval, dan berukuran 10,4-14, 3x3, 2-5, 2μm. Konidia dibentuk di ujung konidiofor tunggal, bersekat, dan berukuran 30x3,5μm. Aservulus berdiameter 400μm dan mempunyai seta. Konidia berkecambah membentuk dua macam Apresporium tidak beraturan, yang satu mencapai ukuran diameter 16μm pada buah hijau (mentah), hialin kecil, dan kadang-kadang dipisahkan dengan serat dari buluh kecambah. Aspesorium yang lain merupakan Apresporium gelap, yang jauh lebih banyak mempunyai dinding cokelat sampai hitam dan selalu dipasahkan dengan sekat dari buluh kecambah.












Gambar 4: biakan Colleototricum sp.

3.      Proses Infeksi

Antraknose pada pisang menyerang permukaan buah, pada awalnya berupa bintik-bintik coklat, kemudian makin melebar, cekung, kemudian muncul spora berwarna merah bata di tengah noda tersebut. Semakin lama bintik-bintik tersebut saling menyambung dan penampilan buah menjadi buruk. Antraknos muncul setelah buah matang kemudian menyebar dengan cepat, dan dalam 2-3 hari permukaan kulit buah telah rusak. Antraknos disebabkan oleh infeksi laten Colletotrichum sp yang telah menginfeksi buah sejak di kebun.
Konidia  jamur patogen terutama berasal dari bagian tanaman sakit yang telah mati, dilepaskan oleh percikan air pengairan atau air hujan dan dipencarkan oleh aliran udara (angin) atau serangga. Pada tetes atau lapisan air bebas di kulit buah, konidia berkecambah dalam waktu 4 jam dan membentuk Apresorium dalam waktu 20 jam. Infeksi secara langsung membutuhkan waktu 24-48 jam dan menyebabkan sel didekat nya menjadi hipersensitif hingga menghasilkan noda kecil berwarna coklat kemerahan pada kulit buah yang tetap dalam keadaan laten sampai buah mulai matang. Keadaan laten ini tampak nya disebabkan karena ada unsur pada inang yang menyebabkan Aprosorium dorman. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka.

4.      Pengendalian
            Sudah harus dimulai sejak di kebun dengan membersihkan bagian tanaman yang mati dan menentukan saat panen yang tepat, juga penanganan panen secara hati-hati sehingga tidak menimbulkan luka pada buah. Setelah dipotong dalam bentuk sisiran harus segera diperlakukan dengan hati-hati dengan pencucian menggunakan larutan klor bersih.
B.     PENYAKIT BUSUK BUAH  Botryodiploida

1.      Gejala
Biasanya  terdapat pada sisa tanaman yang sakit dan sudah mati. Gejala dimulai dari ujung buah atau tempat yang luka. Gejala meluas secara tidak teratur dan menyebabkan warna hitam kecoklatan pada kulit serta melunaknya daging buah.






Gambar 5: buah terseranga Botryodiploida

2.      Patogen
Konidia jamur Botryodiplodia theobromae Pat dihasilkan oleh Pektinidium hitam yang berdiameter 250-300 μm. Konidium dua sel waktu muda hialin dan setelah masak coklat, berukuran 15 x 25 μm. Lubang ostiole piknidium pada leher yang  pendek, berbentuk piala, sendiri atau bergerombol. Pektinidium ini selain mempunyai konidiofor juga mempunyai parafise. Pertumbuhan lambat pada suhu dibawah 20oC pertumbuhan dan pembusukan optimum suhu 25-30oC.



3.      Proses Infeksi
Konidia dipencarkan oleh air atau angin. Terserang pada buah yang mengalami luka dan spora akan berkembang pada luka tersebut. Kulit yang sakit menjadi keriput dan terdapat kerak dari peknidium. Daging buah menjadi lunak, busuk dan pada permukaan kulit tumbuh jamur kelabu tua bila kelembaban tinggi. Tingkat perkembangan penyakit meningkat selama pematangan dan menyerbar ke buah didekatnya. Dan buah yang matang sangat rentan terhadap infeksi.

4.      Pengendalian
Menghindari terjadinya luka, perlakukan buah dengan fungisida sistemik, pendinginan segera setelah panen, pemerahan buah lewat matang selama pengangkutan, mempercepat pemanenan dan pengangkutan jangan lebih dari 14 hari.

C.    PENYAKIT BUSUK UJUNG CERUTU

Penyakit penting untuk Afrika bagian tengah dan barat. Juga terdapat di kepulauan Kanari, Mesir, Afrika Selatan, Amerika Selatan, dan Kuba. Lebih banyak dijumpai pada musim hujan atau kelembaban tinggi.

1.      Gejala
Satu atau semua buah pada sisiran dapat terkena penyakit ini. Gejala awal berupa daerah kelam dan keriput pada kulit ujung buah. Daerah hitam dibatasi oleh garis klorotis sempit pada batas antara jaringan yang sakit dan sehat. Pada busuk ujung buah Trachysphaera, permukaan gejala matang, menyebabkan busuk ujung buah menjadi keabu-abuan, kenampakan seperti abu biasanya dihubungkan dengan busuk cerutu. Daging buah yang sakit kering dan menjadi seperti mumi. Busuk basah dapat terjadi apabila ada organisme sekunder. Dicirikan dengan daging buah kering dan berserat, kelabu dan massa konidia seperti tepung terdapat pada gejala.







Gambar 6 : buah terserang busuk ujung cerutu

2.      Patogen
Ada dua macam jamur, yaitu Trachysphaera fructigena Tabor & Bunting dan Verticillium theobromae (Turconi) E. Mason & Hughes, tetapi kadang kadang hanya yang kedua saja. Konidiofor Trachysphaera fructigena sederhana atau mempunyai gelembung pada ujungnya dengan konidia pada sela kaki. Konidia berdiameter 35 μm, bulat dan tumbuh pada sel kaki. Oogonia kecil berukuran 24 x 40 μm merupakan ciri dari Peronosporales yang dihasilkan pada jaringan sakit. Dinding oogonia tebal dan dicirakan dengan tumbuhnya seperti kantong tak beraturan. Antheridium ampigenus dan tertutup seluruhnya oleh tangki oogonia.
Sekelompok kecil konidiofor Verticillium theobromae dihasilkan pada jaringan sakit. Konidia dihasilkan dengan pemutusan ujung fialid dan bersatu menjadi bulatan berlendir. Ukuran konidiofor 4-6 x 150-400 μm, fialid 15-30 μm dan konidia a 2,0 – 3,5 x 4-9 μm. Pertumbuhan optimumnya pada suhu 25oC

3.      Pengendalian
Harus dimulai dari kebun dengan menghilangkan bagian tanaman yang mati, terutama sisa bunga, selanjutnya tandan bunga dibungkus dengan kantong polietilen, diikuti dengan pembersihan seludang bunga dan buah kering yang terdapat pada kantong pembungkus tandan. Ruang pengepakan harus disanitasi. Sebelum dipotong menjadi sisiran, buah yang sakit dipotong lebih dahulu agar tidak menjadi sumber konidia pada tangki pencucian.

D.    PENYAKIT Squirter

Pada musim dingin penyakit ini dapat menjadi masalah di Australia dan Asia di mana pisang dipak dalam bentuk buah tunggal (uleran=finger)

1.      Gejala
Umumnya tidak terlihat pada buah yang masih mentah (hijau) tetapi akan menjadi jelas setelah buah dikeluarkan dari ruang pematangan. Garis hitam terbentuk pada pangkal ke arah ujung buah. Akhirnya daging buah akan menjadi cairan yang mengalir apabila buah (uleran) mendapat tekanan.



2.      Patogen
Jamur Nigrospora sphaerica (Sacc) E. Masom anamorph Khuskia oryzae H.J Hudson.














Gambar 7: patogen Nigrospora sphaerica (Sacc) E. Masom

3.      Proses infeksi
Patogen ini masuk ke jaringan buah melalui luka bekas potongan.

4.      Pengendalian
Dengan mengepak buah dalam bentuk sisiran atau penyemprotan buah dengan larutan fungisida.

E.     Penyakit Busuk Telapak (Crown Rot) Dan Busuk Pangkal Tangkai Buah

Penyakit ini tersebar luas di seluruh daerah penghasil pisang dan menjadi kendala utama, terutama pada pasaran ekspor yang transfortasinya melebihi 14 hari. Kerugian akibat busuk pangkal tangkai buah ini lebih besar di Eropa, sebab kebiasaan disana menjual pisang dalam bentuk sisiran yang digantungkan atau disangkutkan pada pengait.
1.      Gejala
Pada pangkal buah terdapat bagian yang rusak dan diserang oleh jamur. Serangan ini dimulai pada pangkal sampai pada ujung buah. Bila pada serangan berat akan menjadikan seluruh bagian buah akan diselimuti oleh jamur dan daging buah akan semakin membusuk. Penyebab awal terinfeksi patogen ini adalah karena adanya luka pada saat pemotongan sisiran dari tandan buah dengan bantuan pisau pemotong dan ditambah dengan patogen yang hidup bebas di llingkungan buah.
Inokulum berbagai macam jamur terdapat pada bagian tanaman pisang sakit yang telah mati dan dapat mencapai tempat inokulasi dengan adanya angin, percikan air hujan, air yang terkontaminasi inokulum dalam tangki pencucian atau perendaman, atau pisau yang terinfeksi inokulum untuk memotong sisiran pisang dari tangkai tandan. Inokulum yang terdapat pada air pencuci terisap ke dalam berkas pembuluh angkut melalui luka bekas potongan sampai sedalam beberapa mm dan apabila berkecambah pada sel di permukaan potongan dan akan berkembang ke sel didekatnya.
            Busuk disebabkan oleh sekelompok jamur, bahkan kadang-kadang juga dibantu oleh bakteri. Penyusun kombinasi patogen tergantung dari lokasi,waktu, dan faktor lain.




Gambar 8: buah terserang crown rot
 
 

2.      Patogen
            Serangan crown rot pada buah pisang Raja Bulu dipengaruhi oleh cara penanganan buah, lokasi dan tempat pemasarannya. Buah yang diambil langsung dari kebun, kemudian mendapat perlakuan hati-hati dan bersih, pada bagian crown hanya terserang oleh Colletotrichum sp dan Rhizopus sp. Selanjutnya, mulai dari pedagang pengumpul, pasar tradisional dan pasar swalayan mengalami penambahan mikroorganisme perusaknya. Yaitu terdapat Botryodiplodia sp, Fusarium sp. danPenicillium sp.

 




Gambar 9 : biakan dan gambar mikroskopik Colletotrichum sp

3.      Infeksi
Serangan crown rot pada buah pisang Raja Bulu dipengaruhi oleh cara penanganan buah, lokasi dan tempat pemasarannya. Buah yang diambil langsung dari kebun, kemudian mendapat perlakuan hati-hati dan bersih, pada bag_an crownhanya terserang oleh Colletotrichum sp dan Rhizopus sp. Selanjutnya, mulai dari pedagang pengumpul, pasar tradisional dan pasar swalayan mengalami penambahan mikroorganisme perusaknya. Yaitu terdapat Botryodiplodia sp, Fusarium sp. danPenicillium sp.
Busuk telapak pada mulanya sebagai suatu pelunakan dan menghitamnya jaringan pada permukaan bekas potongan sisiran (batas antara sisiran dengan tandan). Putih keabu-abuan, merah jambu, atau miselium putih dapat terlihat pertama kali pada permukaan bekas potongan sisiran. Busuk telapak biasanya terlihat pada buah yang dikeluarkan dari kapal setelah pengangkutan yang melebihi 7 hari dan akan lebih hebat bial pengangkutan melebihi 14 hari. Dan menjalar dengan cepat memasuki pangkal tangkai buah.
Pangkal tangkai buah dapat terjadi gejala kebasahan, garis hitam pada tempat buah yang luka, atau lecet akibat penanganan atau pengangkutan yang kurang hati-hati. Bagian buah sakit menjadi hitam dan meluas seiring dengan perluasan pembusukan. Bila cuaca lembab akan terbentuk massa konidia merah jambu kekuningan pada jaringan yang hitam. Penyakit ini berasal dari infeksi pada tempat luka dari tangkai tandan oleh jamur Ceratosistis paradoxa atau penyakit lain yang menyebabkan lemahnya bagian pangkal tangakai buah.

4.      Pengendalian
            Dimulai dengan sanitasi sejak di kebun dan juga di rumah pengepakan. Penggunaan air bersih dalam pencucian getah buah. Pemotongan yang merata pada tangkai tandan dengan pisau yang tajam. Pendinginan sesegera mungkin setelah panen (< 24 jam). Perlakuan fungisida pasca panen misalnya thiabendazole dengan perendaman, pencelupan dan penyemprotan  pada band berjalan.




DAFTAR PUSTAKA

Imam Muhajir Dasuki, 1989. Pengaruh suhu pemeraman terhadap perubahan fisik, kimia dan fisiologis buah pisang Ambon. Penel.Hort. 3(4): 28-35.

Imam Muhajir dan Sanuki Pratikno, 1998. Pengaruh pembrongsongan dan pestisida terhadap hama penyakit pascapanen dan mutu buah pisang Ambon Kuning selama pematangan. J.Hort. 8(3):1217-1232.

Murtiningsih, Yulianingsih dan Imam Muhajir. 1991. Penyakit pascapanen pada buah pisang Raja Sere, Emas dan Lampung serta pengendaliannya. J. Hort 1(3) 35-38.

Murtiningsih, Sulusi Prabawati, dan Imam Muhajir. 1995. Kapang penyebab busukcrown pada pisang Rajabulu dan cara pengendaliannya. J. Hort 5(3): 70-75.

Napitupulu, B dan Sjaifullah, 1990. Pengaruh kemasan polietilen dan suhu 15,5oC terhadap mutu pisang Barangan selama penyimpanan. Penel. Hort. 5(1): 38-46

Warda, Wanti Dewayani dan Lukman Hutagalung. 1993. Pengaruh umur petik terhadap mutu buah pisang cv. Barangan. Jurnal Hortikultura 3(2): 27-32


Tidak ada komentar:

Posting Komentar