Rabu, 08 Februari 2012

ULAT API PADA KELAPA SAWIT

HAMA ULAT API ( Darna Trima Moor ) PADA
KELAPA SAWIT ( Elaeis Guineensis Jacq. )


 

PAPER
 


Oleh:

MUKLIS ADI PUTRA
080302017 / HPT
IV



FAK PERTANIAN
















LABORATORIUM BUDIDAYA KELAPA SAWIT DAN KARET
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 1 0

HAMA ULAT API ( Darna Trima Moor ) PADA
KELAPA SAWIT ( Elaeis Guineensis Jacq. )


 

PAPER
 


Oleh:

MUKLIS ADI PUTRA
080302017 / HPT
IV


Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Pra Praktikal Test
di Laboratorium Budidaya Kelapa sawit dan Karet Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan



Diperiksa Oleh :
Asisten Korektor





(BENNI M. SIMANJUNTAK)
NIM : 070301044



LABORATORIUM BUDIDAYA KARET DAN KELAPA SAWIT
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 1 0

 KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.
            Adapun judul dari paper ini adalah Pengaruh  Pemberian MVA (Mikoriza Vesikula-Arbuskula) Pada Tanaman Kelapa Sawit          ( Elaeis guinensis Jacq. )yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal di Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
            Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Prof. Dr. Ir. Edison Purba, Phd., Ir. Balonggu Siagian, MS., Ir. Charloq, MP.                  Ir. Meiriani, MP., dan Ir. Lahmuddin, MP selaku dosen mata kuliah Budidaya Kelapa Sawit dan Karet serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
            Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

                                                                                                Medan,  Maret 2010

Penulis
 
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk golongan tumbuhan palma. Pertama kali ditanam secara massal pada tahun 1911 di daerah asalnya, Afrika Barat. Namun kegagalan penanaman membuat perkebunan dipindahkan ke Kongo. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Kelapa sawit masuk ke Indonesia pada tahun 1848 sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor, diusahakan sebagai tanaman komersial pada tahun 1912, dan ekspor minyak sawit pertama kali dilakukan pada tahun 1919       (Satari, 1989).
Indonesia Dan Malaysia memiliki potensi lahan yang subur serta pasokan tenaga kerja yang cukup untuk menjadikan kelapa sawit sebagai andalan pertubuhan ekonomi. Saat ini Indonesia dan Malaysia memasok 22% dari total produksi minyak nabati dan lemak dunia. Pengembangan kelapa sawit itu akan memberikan tambahan sumber devisa bagi negara (Arief, 2001).
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman serba guna. Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon, tingginya dapat mencapai 24 m. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak, buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman, daging buahnya padat, daging buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya digunakan untuk makanan ternak. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang (Lubis Dan Tobing, 1989).
Tanaman kelapa sawit tergolong tanaman yang kuat, walaupun demikian tanaman ini tak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagaian besar hama yang menyerang adalah golongan insektisida atau serangga. Jenis hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah kumbang, ulat api, ulat kantong, belalang, sedangkan penyakit yang sering menyerang seperti busuk pangkal batang, busuk batang atas, antraknosa dan lain-lain (Adisoemarto, 1989).
Meskipun pestisida banyak mempunyai keuntungan seperti, cepat menurunkan populasi hama, mudah penggunaannya dan menguntungkan secara ekonomi, namun dampak negatif penggunaan semakin lama semakin dirasakan masyarakat. Dampak negatif pestisida yang merugikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup semakin lama semakin menonjol dan perlu memperoleh perhatian yang sungguh dari masyarakat dan pemerintah. Munculnya resistensi, resurgensi atau peletusan hama kedua dapat mengurangi keuntungan ekonomi pestisida (Untung, 2001).
PHT lebih mengutamakan berjalannya pengendalian alami khususnya pengendalian hama yang dilakukan oleh berbagai musuh alami. Dengan memberikan kesempatan sepenuhnya kepada musuh alami untuk bekerja berarti menekan sedikit mungkin menggunakan pestisida. Pestisida sendiri secara langsung dan tidak lengsung dapat merugikan perkembangan populasi musuh alami (Sipayung et al, 1989).
Pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Pengendalian hayati dilatarbelakangi oleh pengendalian alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali utama hama yang bekerja secara density-dependent (Untung, 2001).
Secara teoritis pertumbuhan populasi hama akan diikuti oleh pertumbuhan populasi musuh alami. Akan tetapi, banyak faktor alamiah, seperti iklim dan tersedianya makanan sepanjang waktu bagi hama tertentu, dan menyebabkan populasi hama tersebut melampaui batas kritis. Adapun pengendalian yang dilakukan adalah untuk enurunkan populasi hama sampai pada tingkat ambang batas sehingga tidak merugikan secara ekonomis dan tidak melampaui batas kritis keseimbangan alam (Risza, 1994).
Kebun Tanah Raja Perbaungan PT. Perkebunan Nusantara III memiliki luas lahan 3450 ha, dimana terdiri dari 5 Afdeling. Afdeling 1 dan 2 merupakan areal yang ditanami karet. Sedangkan Afdeling 3 sampai 5 merupakn areal yang ditanami kelapa sawit. Setiap Afdeling memiliki banyak blok dengan jenis tanaman yang berbeda-beda (Winarto, 2005).
Kerugian yang ditimbulkan oleh hama dan penyakit sangat besar nilainya. Apabila serangannya besar dan hebat, dapat menurunkan produksi bahkan bisa menyebabkan kematian. Adapun serangga hama yang banyak menyerang tanaman kelapa sawit adalah kumbang penggerek (Oryctes sp.), ulat api yaitu             Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta, ulat kantong yaitu Metisa plana, Mahasena corbetti, dan Chremathosphisa pendula, belalang yaitu              Valanga nigricornis dan Gastrimargus mormaratus, kumbang malam yaitu Adoratus sp., dan Apogonia sp., kutu daun, dan penggerek tandan buah         (tirathaba mundella) (http://primatani, 2010).

Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui biologi hama ulat api (Darna trima Moor) pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).

Kegunaan Penulisan
  1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra-praktikal di Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
  2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.















TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

            Adapun klasifikasi tanaman kelapa sawit adalah :
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Monocotiledonae
Ordo                : Palmales
Family             : Palmaceae
Genus              : Elaeis
Species            : Elaeis guineensis Jacq.
(Sastrosayono, 2003).
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. ) dibedakan atas 2 bagian yaitu bagian vegetatifdan bagian generatif . Bagian vegetatiftanaman kelapa sawit meliputi akar, batang dan daun. Sedangkan bagian generatif tanaman kelapa sawit meliputi bunga dan buah (Risza, 1994).
Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier dan kuarter. Akar tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah, respirasi tanaman dan sebagai penyangga berdirinya tanaman sehingga mampu menyokong tegaknya tanaman. Akar tanaman tidak berbuku, ujungnya runcing, dan berwarna putih atau kekuningan (Soenardi, 1974).
Tanaman kelapa sawit memiliki batang yang tidak bercabang. Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis. Di batangnya terdapat pangkal pelepah-pelepah daun yang melekat kukuh dan sukar terlepas walaupun daun telah kering dan mati. Sedangkan daunnya menyerupai bulu burung atau ayam. Di bagian pangkal pelepah daun terbentuk baris duri yang sangat tajam dan keras dikedua sisinya. Anak-anak daun tersusun berbaris dua sampai ke ujung daun dan ditengahnya terbentuk lidi sebagai tulang daun (Sunarko, 2007).
Susunan bunga terdiri dari karangan bunga yang terdiri dari bunga jantan dan bungan betina. Umumnya terdapat dalam dua tandan yang terpisah. Bunga jantan selalu masak lebih dahulu daripada bunga betina. Tandan buah tumbuh di ketiak daun. Buah kelapa sawit menempel dikarangan yang disebut tandan buah. Buah kelapa sawit memiliki bagian-bagain yaitu eksokarp, mesokarp, endikarp dan kernel (biji) (Sastrosayono, 2003).

Syarat Tumbuh
Iklim
Habitat asli tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah daerah semak belukar. Sawit menyukai tanah yang subur. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropik, pada ketinggian 0-500 m di atas permukaan laut dengan kelembaban 80-90 yaitu sekitar 2000-2500 mm setahun. Tanaman kelapa sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau           (http://primatani, 2010).
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika di sekitar lintang utara-selatan 12o pada ketinggian 0-500 dpl. Curah hujan optimum yang diperlukan tanaman kelapa sawit rata-rata 2000-2500 mm/tahun. Sinar matahari diperlukan untuk memproduksi karbohidrat dan memacu pembentukan bunga dan buah pada tanaman sawit. Lama penyinaran antara 5-7 jam/hari. Selain itu juga membutuhkan suhu yang optimum sekitar 24-28 oC. selain itu tanaman kelapa sawit juga membutuhkan kelembaban optimum yaitu 80 %, dan kecepatan anginnya 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan (Fauzi dkk, 2006).

Tanah
Tanaman kelapa sawit biasa tumbuh dan berbuah hingga ketinggian tempat 1000 m dpl, namun pertumbuhan optimal pada ketinggian maksimum   400 m dpl, dengan kemiringan 0-12o atau 21%. Kesuburan tanah bukan merupakan syarat mutlak bagi perkebunan kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musin kemarau dan tidak tergenang air pada musin hujan, karena drainse tanah dilokasi perkebunan harus baik dan lancar (Sunarko, 2007).

Hama Ulat Api ( Darna trima Moor )
Biologi Hama

  1. Telur  
Telur bulat kecil, berukuran sekitar 1,4 mm. Berwarna kuning kehijauan dan diletakkan secara individual di permukaan bawah helaian daun kelapa sawit. Sepintas telur D. Trima seperti tetesan minyak yang melekat di daun kelapa sawit dan sulit untuk dilihat. Telur menetas dalam waktu 3-4 hari (Wudianto, 1997).

  1. Nimfa
            Ulat dewasa berwarna coklat dengan panjang 13-15 mm. Ulat yang baru menetas berwarna putih kekuningan kemudian menjadi coklat muda dengan bercak-bercak jingga, dan pada akhir perkembangannya bagian punggung berwarna coklat tua. Ulat mengikis daging daun dari permukaan bawah dan menyisakan epidermis daun bagian atas dengan daya konsumsi 30 cm. Sehingga akhirnya daun yang terserang berat akan mati kering seperti bekas daun terbakar. Ulat menyukai daun kelapa sawit tua, tetapi apabila daun tua telah habis ulat juga memakan daun muda. Stadia ulat berlangsung selama 26-33 hari dengan 7 instar dan masa pupa 10-14 hari. Menjelang berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon dapat dijumpai menempel pada helaian daun, diketiak pelepah daun atau dipermukaan tanah sekitar pangkal batang dan pinggiran. Kokon berwarna coklat tua, berbentuk oval, berukuran sekitar panjang 5 mm dan lebar 3 mm          (PPKS, 2004).

  1. Imago
            Ngengat berwarna coklat gelap dengan lebar rentangan sayap selebar      18 mm. Sayap depan berwarna coklat gelap, dengan sebuah bintik kuning dan sebuah garis hitam. Sayap belakang berwarna abu-abu tua. Ngengat betina lebih besar (9-12 mm) dari jantan. Ngengat aktif pada malam hari sedangkan pada siang hari suka hingga di daun yang sudah kering dengan posisi di bawah dan sepintas seperti ulat kantong. Seekor ngengat dapat meletakkan telur sebanyak 90 butir, tetapi pada waktu terjadi ledakan populasi dapat mencapai 300 butir            (PPKS, 2006).

Gejala Serangan
            Batang tanaman yang diserang adalah anak-anak daun dari pelepah daun yang sudah tua atau agak tua. Ulat api muda memakan permukaan daun sedangkan ulat api dewasa memakan anak dau atau helai daun. Pada serangan berat, helaian daun habis dimakan, sehinga yang tersisa hanya lidinya saja dan beberapa pucuk tanaman (http://erlanadianamansyah, 2010)
Ulat api ini sangat berbahaya pada saat ia diwaktu jadi ulat. Ia dapat memakan 30 cm setiap hari. Ulat ini akan memakan daun yang lebih muda, karena bagian yang muda mengandung kandungan air yang lebig tinggi dibandingkan daun yang tua. Pada bagian yang muda merupakan bagian yang lunak dan ulat mudah untuk memproses hasil makan dalam tubuhnya. Ulat memakan bagian epidermisnya, biasanya ia memakan pada bagian paling ujung, yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman dapat terganggu dan terhambat karena daun yang muda telah habis dimakan oleh ulat. Pada gejaa yang paling bera dapat menyebkan kematian pada tanaman karena tanaman tidak mendaptkan asupan energi yang cukup karena bagian tanaman untuk memasak makanan telah dimakan oleh ulat (Partoadmodjo, 1989).

Pengendalian
            Pengendalian dapat dilakukan dengan pengendalian hayati, yaitu dengan menggunakan mikroorganisme entomopatogenetik, yaitu virus β nudaurelia, multi plenucleo-polyhedrovirus (MNPV), dan jamur Cordyceps aff. Militaris. Mikroorganisme entmopatogenetik tersebut merupakan sarana pengendalian hayati yang efektif, efesien dan aman terhadap lingkungan. Virus β nudaurelia, dan MNPV, efektif mengendalikan ulat, dengakan jamur Cordyceps aff. Militaris efektif untuk kepompong hama tersebut ( Anonimus, 2010a).
            Penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) terhadap ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) menunjukkan hasil yang baik dan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Dalam sistem ini, pengenalan terhadap biologi hama sasaran dasar penyusunan taktik pengendalian tindakan pengendalian hama dilaksanakan sesuai hasil monitoring populasi hama tersebut melampaui padat populasi kritis yang ditentukan, serta mengutamakan pelestarian dan pemanfaatan musuh alami yang ada di dalam ekosistem kelapa sawit (PPKS, 2004).
Pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera telah ditemukan 33 jenis parasitoid dan predator tersebut berperan penting sebagai faktor pengendali populasi hama secara alami di perkebunan kelapa sawit, sehingga perlu dijaga kelestariannya dan perlu diperhitungkan serta dimanfaatkan di dalam pengendalian UPDKS. Selain itu, beberapa predator, terutama              Eovhantochona furcellata Wolf, telah dapat dibiakkan di insektarium dengan menggunakan makanan ulat api dan ulat lain yang telah disimpan dalam keadaan beku di kotak pendingin. Dengan demikian, dapat diperoleh predator tersebut dalam jumlah besar untuk dilepaskan di areal perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan (Siregar, 2004).


KESIMPULAN

  1. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk golongan tumbuhan palma, dan pertama kali ditanam secara massal pada tahun 1911 di daerah asalnya, Afrika Barat.
  2. Hama ulat api (Darna trima Moor) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kelapa sawit.
  3. Hama ulat api (Darna trima Moor) telah menimbulkan kerugian pada kelapa sawit mulai dari fase nimfa sampai dewasa.
  4. Serangan berat oleh hama ulat api dapat menjadikan daun tanaman hanya ketinggalan lidinya saja, sehingga tanaman tidak dapat melakukan fostosintesis.
  5. hama ulat api dapat dikendalikan dengan memanfaatkan sarana bahan kimia, musuh alami, pengendalian hayati maupun pengendalian hama terpadu (PHT).









DAFTAR PUSTAKA



Adisoemarto, N., 1989.  Budidaya dan perlindungan kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.

Arief, B., 2001. Kelapa  Sawit. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.



Lubis, A. U., P. L. Tobing. 1989. Potensi pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit. Bull. Perkebunan 20 (1) p. 49-56.

Partoadmodjo, R., 1989. Tanaman kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta.

PPKS, 2004. Teknologi Pengolahan kelapa sawit. Jl. Brigjen Katamso. Medan.

PPKS, 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Jl. Brigjen Katamso. Medan.

Risza, W., 1994. Tanaman kelapa sawit. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sastrosayono, S, S., 2003. Kelapa Sawit, Budidaya Dan Perlindungannya. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Satari, M. N., 1989. Pengelolaan tanaman Kelapa Sawit Perkebunan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sipayung, et al., 1989. Pemanfaatan Dan optimalisasi lahan perkebunan kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta.

Siregar, A., 2004. Hama penyakit perkebunan. FP USU. Medan.

Soenardi, 1974. Hubungan antara sifat-sifat kayu Dan kualitas kertas. Berita selulosa, vol.X, No. 3, September 1974.

Sunarko, K., 2007. Hama-hama tanaman kelapa sawit. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Untung, M., 2001. Pengelolaan kelapa sawit. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Winarto, M. N., 2005. Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Wudianto, T., 1997. Pengendalian hama penting kelapa sawit. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
 















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar