Powered By Blogger

Kamis, 20 Oktober 2011

parasitoid hama tanaman


Reaksi Perlawanan Inang terhadap serangan parasitoid

Dalam agroekosistem parasitoid merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi populasi hama tanaman (Heddy 2010). Serangga parasitoid berperan dalam menekan populasi hama dengan cara memarasit telurnya ke tubuh inang (hama) baik secara endoparasit ataupaun secara ektoparasit. Pada umumnya serangga parasitoid berasal dari ordo Hymenoptera dan Diptera.
Peletakan telur oleh serangga parasitoid baik endoparasit maupun ektoparasit terjadi melelui beberapa tahapan. Secara normal berawal dari pencarian inang (telur, larva, atau imago hama) oleh imago betina di pertanaman tertentu. Ketika inang sudah ditemukan serangga parasitoid meletakkan telur pada inangnya. Dan pada akhirnya telur itu akan menetas menjadi larva yang memperoleh makanan dari bagian tubuh inang sehingga menyebabkan kematian inang (Purnomo 2009).

Parasitoid Idiobion
Parasitoid idiobion adalah parasit yang mencegah pertumbuhan inang setelah parasitisasi awal, dan khususnya ini melibatkan tahapan hidup inang yang tak bergerak (misalnya telur atau pupa) dan hampir tanpa pengecualian mereka tinggal di luar inang.

Parasitoid Koinobion
Parasitoid koinobion memugkinkan inang terus berkembang dan sering tak membunuh atau mengambil makanan dari inang hingga menjadi kepompong ataupun dewasa; yang kemudian khasnya melibatkan hidup dalam inang bergerak. Koinobion dapat dibagi lagi menjadi endoparasitoid, yang tumbuh dalam mangsanya, dan ektoparasitoid, yang tumbuh di luar badan inang, meskipun sering berikatan atau berlekatan dengan jaringan inang.

Tak umum bagi parasitoid sendiri bertindak sebagai inang untuk anak parasitoid lainnya. Yang terakhir ini umum disebut sebagai hiperparasit namun istilah ini agak membingungkan, karena inang dan parasitoid primer dibunuh. Istilah yang lebih baik adalah parasitoid sekunder, atau hiperparasitoid; yang sebagian besar diketahui termasuk ordo Hymenoptera.

INANG PARASITOID
Telur
Parasit telur adalah parasit yang diletakkan oleh induknya di dalam telur inang. Parasit makan, tumbuh, dan berkembang (termasuk berpupa) di dalam telur inang. Telur inang yang berparasit itu tidak dapat menetaskan larva inang melainkan menghasilkan imago parasit. Parasit telur melangsungkan seluruh siklus hidupnya di dalam telur inang (Arifin, 2010).
Larva
Berbeda dengan parasit telur, induk parasit larva meletakkan telurnya pada tubuh larva inang. Selain itu, berbeda dengan parasit telur yang selalu bersifat endoparasit, parasit larva dapat bersifat endoparasit maupun ektoparasit. Larva inang yang terparasit tidak dapat berpupa, melainkan menghasilkan imago parasit (Arifin, 2010).
Pupa
Parasitoid menginfeksi pada saat inang berada pada fase pupa. Parasitoid meletakkan telur pada pupa, sehingga pupa yang terinfeksi akan mengalami perubahan warna menjadi kehitam-hitaman.
Nimpha dan Imago
Selain parasitoid yang menyerang telur, larva dan pupa ada pula parasitoid yang memiliki preferensi inang pada stadia nimpha dan stadia imago inang. Larva parasitoid berkembangbiak dalam tubuh inang dan menghabisi seluruh energy inangnya.

PERLAWANAN INANG
Reaksi Eksternal
Untuk mempertahankan diri, inang mungkin menangkal parasitoid secara eksternal sebelum terjadi oviposisi, atau secara internal setelah oviposisi terjadi. Reaksi pertahanan eksternal dapat dilakukan dengan menggerak-gerakkan tubuh atau inang pindah ke bagian lain yang lebih aman (Qotrunnada, 2009).
Reaksi Internal
Reaksi pertahanan internal terdiri atas reaksi seluler (enkapsulasi dan melanisasi) dan reaksi humoral. Reaksi seluler terutama melibatkan sel darah serangga atau hemocytes yang merupakan reaksi adesive hemocytes terhadap mikrobia atau parasit ( McKenzie, 1992; Strand, 1994). Pada reaksi tersebut terjadi perubahan-perubahan secara morpologi, tingkah laku dan jenis sel yang terlibat selama terjadinya infeksi yang secara luas telah diteliti menggunakan teknik mikroskopik, lectin dan monoclonal antibodi markers (Theopold, 1995; Theopold et al, 1996). Hemocyte mempagositosis bakteri, memperangkap mikrobia dalam nodul dan kapsulasi (Vinson and Hegazi, 1998). Hemocytes juga terlibat dalam reaksi imun lainnya seperti koagulasi hemolim (Brehelin, 1979; Gregoire, 1974) dikutip dari Novrizal dan Suwardji.
o Reaksi Seluler
o Pengkapsulan (Enkapsulasi)
Salah satu respon oleh inang parasitoid adalah enkapsulasi yaitu suatu mekanisme pertahanan umum yang diberikan oleh serangga host dalam respon terhadap invasi oleh organisme metazoan asing parasitoid atau lainnya. Dalam proses enkapsulasi, inang membentuk kapsul disekitar telur atau larva parasitoid, kapsul ini terdiri dari sel-sel darah (hemoliph) inang dan pigmen melanin. Kapsul ini dapat membunuh parasitsoid dan dengan demikian mencegah suksesnya parasitisme. Enkapsulasi buruk dapat mempengaruhi tingkat kontrol biologis dipengaruhi oleh parasitoid karena baik dapat mencegah pembentukan parasitoid eksotis di daerah baru atau mengurangi keberhasilan parasitoid. Sebuah kejadian yang tinggi enkapsulasi juga dapat menyebabkan kesulitan dalam pemeliharaan massa parasitoid. Dalam Coccoidea (Homoptera), enkapsulasi parasitoid sejauh ini telah dicatat dalam tiga keluarga: Coccidae (serangga skala lunak), Diaspididae (serangga skala lapis baja), dan Pseudococcidae (kutu putih). Faktor-faktor penting yang mempengaruhi frekuensi enkapsulasi parasitoid dalam Coccoidea meliputi: Host dan spesies parasitoid, usia fisiologis inang dan kondisi fisiologis, asal tuan rumah (atau regangan), superparasitism, yang pemeliharaan dan / atau suhu sekitar, dan tanaman inang. Dampak dari faktor-faktor pada kejadian enkapsulasi parasitoid di Coccidae, Diaspididae, dan Pseudococcidae dijelaskan (Blumberg 1997).

o Koagulasi
Proses koagulasi berfungsi untuk menutup luka bekas tusukan ovipositor, sehingga mencegah hilangnya hemolimph inang yang berlebihan dan mencegah mikroorganisme masuk ke dalam tubuh inang. Protein koagulasi adalah plasma koaglugen yang merupakan kompleks lipo-glycoprotein dengan BM antara 600-1000 kDa llipophorin.

• Reaksi Humoral
Secara humoral, proses pembentukan kapsul melanin disekeliling telur parasitoid tanpa partisipasi yang nyata dari hemosit. Diketahui bahwa family dari serangga yang dapat melakukan reaksi humoral yaitu : Culcidae, Chironomidae, Psychodidae, Stratiomidae, Syrphidae. Proses humoral ini dikontrol oleh beberapa faktor termasuk B-1,3 glucan, ion bervalensi 2, serin berprotease.

o Prophenoloxidase
Dalam tubuh serangga enzim ini tidak aktif, dan diaktifkan oleh Phenoloxidase Activation System (PA). Dimana PA ini berfungsi untuk pengenalan benda asing yang masuk kedalam tubuh inang, pembentukan melanin (Oksidasi fenol quinon melanin), opsonisasi dan koagulasi. Pemurnian phenoloxidase dapat diperoleh dari : Tenebrio molitor (Heyneman, 1965), Bombyx mori (Ashida, 1971), Calliphora erythrocepala (Munn & Bufton, 1973), Hyalophora cecropia (Anderson et al, 1989).

o Lectin
Adalah protein (bukan enzim atau glikoprotein) yang berikatan atau bereaksi dengan karbohidrat partikel asing sehingga menyebabkan aglutinasi. Konsentrasi lectin ini bergantung pada luka, spesies dan tingkat perkembangan inang. Telah dideteksi pada berbagai jenis jaringan seperti : Hemolimph Hyalophora cecropia, membrane epidermis Pieris brassicae, membrane perithropic larva Calliphora erythrocepala, badan lemak Sarcophaga peregrine, dan telur Leptinotarsa decemlianata. (Anggraeni, 2010).

Secara umum, inang yang berbeda menggunakan mekanisme pertahanan yang berbeda untuk menghadapi parasitoid yang sama, tetapi parasitoid yang berbeda akan menyebabkan reaksi pertahanan yang sama dari inang yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar