Powered By Blogger

Kamis, 20 Oktober 2011

integrasi ternak perkebunan


PENDAHULUAN

Pendapat mana yang paling benar? Sepertinya hal ini tidak perlu diperdebatkan. Pada kenyataannya, cara pandang peternak pada sapi peliharaannya akan sangat mempengaruhi sifat dan perilaku sapi tersebut. Pada satu peternakan, semakin tinggi pemahaman peternak terhadap perilaku sapi, akan semakin tinggi pula kemampuan peternak untuk menangani ternak sapinya dengan baik.
Berdasarkan penelitian, sapi adalah salah satu hewan  yang tidak saja menggunakan insting,  tetapi juga pikiran dan perasaan untuk menghadapi aneka macam situasi dan kondisi. Disamping itu, sapi memiliki kelebihan dalam hal daya ingat serta daya adaptasi yang kuat. Kemampuan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan dengan cara memberikan latihan serta perlakuan yang konsisten.
Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.
Peternakan sapi potong merupakan peternakan yang paling banyak dipelihara sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi protein hewani sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan peternak yang memeliharanya, namun dengan skala usaha peternakan rakyat yang minimal akan sangat sulit mencapai kedua hal tersebut.
Sapi merupakan hewan pemakan rumput yang merubah bahan gizi rendah (rumput) menjadi bahan gizi tinggi (daging). Merupakan sumberdaya bernilai ekonomi tinggi. Kebutuhan meningkat sejalan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi. Pemeliharaan saat ini beralih dari ekstensif ke intensif.


FATTENING (PENGGEMUKAN) PADA SAPI POTONG

Pengertian Penggemukan Sapi Potong

 Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi potong dengan cara mengandangkan secara terus menerus selama waktu tertentu dengan tujuan meningkatkan bobot badan dan diperoleh daging yang baik sebelum di potong. Ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dalam usaha peternakan termasuk dalam penggemukan yaitu :bibit (bakalan), pakan dan manajemen. Pemilihan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan harus semua di perhatikan.
Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan).

Jenis-Jenis Sapi Potong
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
a. Sapi Bali
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.
b. Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
c. Sapi Brahman
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.
d. Sapi Madura
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.
e. Sapi Limousin
Selain itu beberapa jenis sapi potong yang sudah dikenal di Indonesia antara lain : sapi tropis (sapi Madura, Bali, Ongole dan Brahman), sapi subtropis (Simental, Limousin, Shorthorn, Hereford, Charolais, Aberdeen Angus) dan sapi persilangan (Brahman Cross). Sapi potong memiliki ciri seperti tubuh berbentuk persegi empat/balok, kualitas daging maksimum, laju pertumbuhan cepat, cepat dewasa dan efesiensi pakan tinggi.
Pengelolaan dan Budidaya Sapi Potong

Keberhasilan budidaya sapi potong sangat tergantung pada pemilihan bibit dan pemeliharaan yang baik. Bakalan untuk penggemukkan umumnya jantan. Bibit harus sehat, tidak cacat, dada dalam dan lebar, tidak kurus, mempunyai perimbangan tubuh yang harmonis, untuk pejantan mempunyai testis yang normal dan berumur setidaknya 2 tahun (sudah siap bereproduksi) dengan bobot badan sekitar 250-300 kg (sapi PO).
Bibit merupakan bagian awal dari usaha penggemukan, oleh karena itu penting untuk diperhatikan pemilihan bibit. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan sapi bakalan atau bibit :
a. Pilih sapi bakalan yang kurus tetapi sehat,dan tidak cacat.
b. Pemilihan bangsa sesuaikan dengan permintaan pasar.
c. Pilih sapi jantan, karena sapi jantan pertambahan bobot badan jauh lebih tinggi dibanding sapi betina. Disamping itu pemoyongan sapi betina dilarang oleh Undang-Undang Peternakan.
d. Bobot badan awal sapi bakalan untuk sapi putih sebessar 250 kg dan sapi keturunan minimal 300 kg.


  
Lokasi kandang harus strategis, dekat dengan lokasi pertanian dan perkebunan agar terjalin integrasi tanaman-ternak, cukup jauh (± 50 m) dari pemukiman, memiliki sumber air bersih dan dekat dengan jalan. Konstruksi kandang harus kuat, luasan memenuhi syarat, sirkulasi udara dan sinar matahari cukup, drainase limbah baik, mudah dibersihkan, lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering, tahan injak, terdapat tempat pakan dan minum.
Ada 2 tipe kandang : (1) Kandang koloni; terdiri dari satu ruangan untuk memelihara ternak dalam jumlah banyak. Kandang seukuran 7 x 9 m dapat menampung 20 ekor sapi. (2) Kandang tunggal; terdiri dari satu ruangan, digunakan untuk memelihara satu ekor ternak. Kandang seukuran 2,25 x 1 m atau 3,75 m2/ekor.
Kandang merupakan salah satu aspek yang cukup penting dalam pemeliharaan sapi karena perkandangan merupakan faktor yang cukup menentukan bagi kelancaran usaha ternak tersebut. Kandang yang baik dapat membantu dan mempermudah para tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya dengan lebih efektif dan efisien, membantu dalam meningkatkan konversi pakan dan laju pertumbuhan serta kesehatan ternak.
Pemilihan lokasi penting untuk diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, terutama untuk kandang yang dibangun permanent dan kandang kelopok, karena pemindahan kandang peramanen maupun kelompok memerlukan biaya yang mahal. Lokasi untuk mendirikan kandang sapi harus memenuhi persyaratan antara lain :
Rancangan sederhana kandang sapi potong
Atap
Fungsi dari atap adalah untuk menaungi kandang agar ternak tidak kehujanan atau kena sinar mata hari langsung. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk atap disesuakan dengan bahan yang tersedia dilokasi dan ketiggian tempat pembangunan kandang. Untuk dataran rendah dan sedang dapat digunakan rumbia, dan genteng. Sedang seng bekas digunakan untuk daerah dataran tinggi dimasudkan agar dapat memeberi efek panas pada siang hari dan menyerap panas.
Fungsi dari kerangka kandang adalah membentuk bangunan kandang secara utuh dan menahan kekuatan kandang. Bahan yang digunakan untuk membuat kerangka dipilih dari bahan yang kuat dan tersedia disekitar , seperti bamboo, atau kayu-kayu bekas yang masih kuat.
Lantai
Lantai berfungsi untuk pijakan dan menahan ternak. Lantai sebaiknya diploor/ diplester dibuat dari ubin yang kuat, agar mudah membersihkannya Sedang untuk lantai kandang dibuat miring agar air kencing mudah menampungnya dan kotoran mudah membersihkannya.


Dinding
Dinding kandang berfungsi untuk menjaga agar sapi tidak keluar, menahan anginan langsung masuk kekandang dan menahan udara hangat agar tetap hangat pada waktu siang dan malam hari pada daerah dataran tinggi.Untuk dataran rendah- sedang ( ketinngian dibawah 1000 m dpl ) dinding kandang dibuat hanya separo dari dinding dan dinding dibuat bilah bamboo atau kayu yang dibuat berjajar horizontal. Sedang untuk dataran tinggi ( ketinggian diatan 1000 m dpl ) dinding kandang sebaiknya tertutup rapat dari dua pertiga dinding kandang dan bagian atas dibuat terbuka atau dibuat pagar dari bilah bamboo dengan jarak 30 -50 cm.
Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk jalan keluarnya udara kotor (CO2) dari dalam kandang dan jalan masuk udara bersih (O2) ke dalam kandang. Supaya pertukaran udara bisa lancar ventilasi harus diperhatikan saat pembuatan dinding kandang.
Arah Kandang
Kandang dibangun mengarah ke Timur agar dapat sinar matahari langsung pada pagi hari. Sinar matahari pagi sangat penting untuk ternaknya karena sinar mata hari yang kena langsung ke ternak dapat membantu prosese pembentukan vitamin D dan membantu pengeringan kandang.Kandang yang kering tidak mudah untuk berkembangnya bakteri dan virus.
Penyekat Kandang
Ruangan kandang perlu disekat-sekat menjadi beberapa bagian. Manfaat penyekat ialah untuk memisahkan ternak-ternak berdasarkan status fisiologi                      (pejantan, induk bunting, induk beranak/ menyusui, anak sapihan dan penggemukan) sehingga :





Contoh model kandang sapi potong
Ukuran Luas Kandang Perekor
Jantan lokal (umur 12 bulan)
Jantan keturunan (umur 12 bulan)
Ukuran Kandang
Tinggi: 2,5 – 3 m
Lebar: 2-2,5 m
Letak tempat pakan dari lantai: 40 cm
Tinggi dinding tempat pakan: 90 cm
Lebar bagian atas tempat pakan: 60 cm

Hijauan rumput yang biasa dijadikan pakan ternak seperti rumput alam, rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput setaria (Setaria sphacelata), rumput benggala, rumput raja (Pennisetum purpureophoides). Sedangkan jenis leguminosa seperti lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissn), gamal (Gliricidia sepium), turi (Sesbania grandiflora), albesia. Sisa hasil pertanian yang dapat dijadikan sumber hijauan pakan ternak seperti jerami padi, daun dan tongkol jagung, jerami kacang tanah. Jerami padi mempunyai kadar serat yang tinggi dan kadar energi rendah sehingga nilai cernanya rendah. Untuk itu diperlukan suatu perlakuan agar mudah dicerna yaitu dengan proses fermentasi.
Produktivitas ternak ruminansia dapat diperbaiki dengan memanfaatkan mikroorganisme/ probiotik dalam pakan guna meningkatkan kualitas pakan dan memperbaiki kondisi rumen. Ada dua cara pengolahan hijauan pakan ternak yaitu melalui pengawetan dan melalui teknologi pengkayaan nutrisi (khusus untuk limbah hasil pertanian/perkebunan).
Akan sangat penting untuk diperhatikan, karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi ( Tillman et al, 1998 ).

Pengertian Tentang Pakan
Secara umum pakan sapi terdiri dari hijauan antara lain berasal dari rumput lapangan, rumput unggul, limbah pertanian, leguminosa dan hijauan lain. Permasalahan yang dihadapi peternak adalah pakan hijauan di wilayah Indonesia pada umumnya kurang baik sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak perlu tambahan pakan konsentrat. Oleh karena itu penggemukan sapi yang hanya diberi pakan hijauan saja tanpa ditambah pakan konsentrat tidak mungkin pertambahan bobot badan bisa maksimal seperti yang petani harapkan. Sebagai contoh ternak sapi putih ( PO ) dara yang mendapat pakan ruput lapang dan jerami padi bobot badan yang dicapai berkisar 0,24 kg/ekor/hari dibandingkan sapi potong yang mendapat pakan rumput lapang dan jerami dengan ditanbahn konsentrat bobot badan yang dicapai 0,65 kg/ekor/hari.

Dedak Padi Pakan Sapi                                                                                Premix Pakan Sapi




Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan :

Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang pada sapi, yaitu :

Usaha pemeliharaan sapi saat ini bertujuan untuk penggemukan (fattening) dan pembibitan (reproduksi). Sistem pemeliharaan untuk tujuan penggemukan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :
1. Penggemukan dry lot fattening, cara penggemukan dengan pemberian pakan penguat yang terdiri dari : biji-bijian, jagung serta hasil ikutan produk pertanian seperti katul, bungkil kelapa dan bungkil kacang. Pada pola ini ternak dikandangkan terus menerus
2. Penggemukan pasture fattening, cara penggemukan dengan cara melepas ternak di padang penggembalaan
3.  Penggemukan campuran, merupakan perpaduan antara dry lot fattening dan pasture fattening. Selain digembalakan juga diberi pakan penguat (konsentrat).
Pengembangan sapi potong dilakukan melalui 3 pendekatan yaitu :


 Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging sapi  adalah:
Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.
Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat
sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.
Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada
umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.
Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan
sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi
lebih singkat.
Peran sapi potong sangat strategis sebagai sumber pendapatan petani. Berdasarkan besarnya skala usaha peternakan sapi potong ada 4 pola usaha yaitu ; sapi potong sabagai usaha sambilan, cabang usaha, usaha pokok dan industri. Sebagai gambaran jumlah sapi potong di Indonesia sebanyak 10,73 juta ekor yang diusahakan oleh 2,86 juta Rumah Tangga Tani.
Dari jumlah sapi potong tersebut sekitar 80 % merupakan petani peternak skala kecil yang merupakan usaha sambilan. Menurut Baharsyah (1992) untuk meningkatkan pendapatan petani maka pemeliharaan petani sapi potong diarahkan menjadi usaha komersial dengan pendekatan agribisnis. Pendekatan agribisnis mulai dari pra produksi, produksi, pengolahan dan pemasaran.
Disamping berperan sebagai sumber pendapatan, sapi potong sangat berperan dalam menyumbang daging nasional. Sambangan daging asal sapi potong terhadap daging nasional terus menurun dan telah digantikan daging ayam potong. Menurut Asosiasi Produsean Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO ) pada tahun 2009 kebutuhan daging nasional sebesar 399.535 ton dan dari kebutuhan tersebut sebanyak 66,2 % dipenuhi dari pemotongan sapi-sapi lokal, sisanyan dipenuhi dari impor daging, jeroan dan sapi bakalan. Total impor daging mencapai 75.000 ton. Jawa Tengah sebagai sumber sapi potong ke dua nasional, jumlah sapi potong sebanyak 1,46 juta ekor yangmampu menymbang daging nasional sebanyak 37.
  
Berikut ini analisis finansial usaha penggemukan sapi potong
Program swasembada daging ini merupakan respon adanya fakta bahwa kebutuhan konsumsi daging meningkat yang ditandai dengan kecenderungan impor daging dan sapi hidup yang jumlahnya terus meningkat pada dasawarsa terakhir, dimana pada tahun 2002 nilai impor daging (termasuk produk olahannya) dan sapi hidup mencapai US$106.003.410,00 sedangkan populasi sapi potong secara nasional dari tahun 1994 – 2002 mengalami penurunan sebesar 3,1 persen per tahun (BPS, 2003 dan Anonim, 2005). Menurut data Ditjennak (2004) disitasi Anonim (2005), populasi sapi potong tahun 2000 – 2004 berturut-turut adalah 11.008.017, 11.137.701, 11.297.625, 10.504.128, 10.726.347 ekor. Sementara itu, impor daging dan sapi hidup telah menganggu sistem pasar lokal sebagaimana yang telah terjadi pada peternak sapi di Jawa Barat yang mengeluhkan akan adanya daging sapi impor karena telah menurunkanpenjualannya hingga 50%.
Saat ini usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan (cow calf operation) dalam negeri 99 persen dilakukan oleh peternakan rakyat yang sebagian besarnya berskala kecil dengan tingkat kepemilikan 1 – 5 ekor per KK. Usaha ini biasanya terintegrasi dengan kegiatan lainnya, sehingga fungsi sapi sangat kompleks. Oleh karenanya pembuatan kebijakan dalam pembangunan peternakan tidaklah terlepas dari kondisi objektif bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tidak memilahmilah secara jelas antara peternakan dan pertanian umumnya. Hal ini dikarenakan sistemusahatani yang masih bersifat subsisten yang banyak oleh petani gurem. Banyaknya peternakan rakyat yang berperan dalam menghasilkan sapi bakalan ini mendorong perlunya pengembangan peternakan berbasis kerakyatan. Hal yang menjadi permasalahan adalah bahwa kepemilikan ternak yang relatif kecil tersebut secara ekonomis kurang menguntungkan sementara petani tidak secara khusus melakukan kegiatan usaha peternakan. Ini, tentu saja, memerlukan upaya bagaimana meningkatkan usaha peternakan dengan tetap terintegrasi dengan sistem usahatani yang tengah dilangsungkannya.
Aspek penting dalan usaha sapi potong adalah produksi bakalan (pedet) untuk penggemukan (Feede Catle) dan hasil penggemukannya (Fattening). Pada aspek penggemukan masalah yang ditemui adalah :
a). Bobot awal penggemukan (bakalan dibawah 250 kg)
b). Pakan kwalitas dan kwantitasnya rendah
c). Pemeliharaan terlalu lama (lebih dari 6 bulan).
Pada hal target pertumbuhan sapi potong yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian dalam Program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) pertambahan bobot sapi potong Peranakan Onggole (PO) di atas           0,7 kg/ekor/hari, sapi keturunan diatas 0,9 kg/ekor/hari dan bobot potong sapi PO diatas 400 kg dan sapi keturunan diatas 500 kg.
Mengembangkan sapi potong sangat menguntungkan apabila dilihat dari segi ekonominya. Selain produk daging juga menghasilakan pupuk kandang dan dapat dimanfaatkan juga sebagi tenaga kerja. Hasil ikatan lainnya juga dapat dimanfaatkan:

Sapi sebelum fattening                                                Sapi sesudah fattening











Ganbar perbedaan  Sapi sebelum fattening dengan
Sapi sesudah fattening
































1 komentar: